GOD is our side and we in His side

July 23, 2017 | Penulis: Ps. Jefry Radona Wuntu,S.Th.

TUHAN DI PIHAK KITA dan KITA DI PIHAK TUHAN

Keluaran 32:1-6

Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Perjalanan kehidupan bukan sesuatu yang mudah karena dalam perjalanan kehidupan ini banyak mengalami gangguan seperti tantangan begitu berat. Tantangan atau masalah itu juga pasti dialami oleh setiap anak Tuhan, dan kadang kala oleh beratnya tantangan itu maka membuat kita lebih terfokus kepada masalah itu dan sampai melupakan Tuhan. Kita melupakan Tuhan karena pada saat tantangan atau masalah datang maka kita merasa bahwa Tuhan tidak bersama dengan kita atau sepertinya kita merasa bahwa Tuhan sudah tidak ada di pihak kita.

Tuhan selalu berada dipihak kita akan tetapi ternyata dari sisi manusia yang sering berpindah dari pihak Tuhan. Kadang kala oleh karena keinginan kita maka kita lebih mengutamakan kehendak kita yang tanpa disadari itulah yang membuat kita jauh dari Tuhan.

Perjalanan bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah Mesir yang kemudian menuju ke Tanah Perjanjian. Ada suatu peristiwa dimana Musa sedang naik ke gunung Sinai untuk menerima Hukum Tuhan dan saat itu Musa begitu lama berada di atas gunung (Kel 32:1 –“..Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu..”). Ketika Musa begitu lama maka bangsa Israel membuat sebuah kesalahan yang besar. Bangsa Israel begitu bergantung kepada Musa sehingga ketika Musa lama turun maka mereka merasa ini suatu tanda bahwa Tuhan sudah tidak menyertai mereka lagi, Tuhan sepertinya sudah tidak di pihak mereka. Apakah begitu ? Tentunya tidak.

Waktu bangsa Israel berada di tepi laut Teberau, Tuhan menolong bangsa Israel dengan cara yang luar biasa yang sebenarnya bertentangan dengan logika manusia (Kel 14:19,20).  Pertolongan Tuhan adalah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan. Manusia cenderung menginginkan dalam setiap persoalan supaya cepat selesai akan tetapi bagi Tuhan bukan soal cepat selesai tetapi bagaimana kepercayaan terhadap pertolongan Tuhan meskipun dalam masa penantian dan meskipun pertolongan Tuhan berbeda dengan logika manusia terbukti dengan peristiwa di Laut Teberau . Sebab itu cara yang terbaik untuk kita menanti pertolongan Tuhan adalah tetap percaya meskipun sepertinya kita harus menanti waktuNya Tuhan.

Ini Kebenaran yang harus kita sadari, bahwa kita harus  memiliki kesabaran dalam menanti pertolongan Tuhan dan jangan miliki sikap yang tergesa-gesa.  Ketika bangsa Israel menunggu terlalu lama Musa turun maka mereka mencoba mencari solusi sendiri dengan cara membuat patung lembu emas untuk mereka sembah(Kel 32:2-4). Mereka mengandalkan emas/kekayaan mereka dan ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Mencoba dengan cara sendiri yang dilandasi oleh sikap hidup yang tergesa-gesa/instan hanya sebuah kesia-siaan.

Belajar dari kesalahan bangsa Israel maka dalam Keluaran 33,   Musa mendirikan Kemah Pertemuan supaya bangsa Israel pun bisa datang kepada Tuhan, akan tetapi mereka tetap tidak mau datang. Mereka tidak mau membangun hubungan dengan Tuhan. Untuk kita bisa merasakan pertolongan Tuhan maka kita harus bisa untuk terus datang kepada Tuhan. Kita harus membangun komunikasi dengan Tuhan, Kita merasakan bahwa Tuhan ada di pihak kita ketika terus membangun hubungan dengan Dia. Ketika kita menjaga hubungan kita dengan Tuhan maka kita akan mengalami hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Oleh sebab itu mungkin saat ini kita sedang mengalami masalah yang berat maka tetaplah percaya bahwa Tuhan pasti menolong kita sekalipun kita harus menanti waktuNya Tuhan, jangan mengandalkan kemampuan logika kita tapi serahkanlah semuanya pada Tuhan, dan teruslah membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, maka kita akan mengalami pertolongan Tuhan yang ajaib dan luar biasa.

Tuhan ada di pihak kita dan kita ada di pihak Tuhan..Amin  !!!

(Pdt. Indrijanti M. Limanta, M.Div.)

 

Ringkasan Khotbah